Kasus dan Statistik Cyber Crime di Indonesia: Modus dan Cara Mencegahnya
Kasus cyber crime di Indonesia terus menunjukkan peningkatan, baik dari sisi jumlah serangan maupun dampak yang ditimbulkan. Besarnya risiko ini juga terlihat dari nilai kerugian yang ditimbulkan. Bank Indonesia memproyeksikan kerugian akibat serangan siber di Indonesia sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp111 triliun.
Ancaman tersebut tidak datang dalam satu jenis saja. Phishing, malware, pencurian kredensial, ransomware, penyalahgunaan akses, hingga serangan berbasis AI dapat menjadi pintu masuk untuk mencuri data, mengambil alih akun, atau mengganggu operasional perusahaan.
Lalu, seperti apa kasus cyber crime yang terjadi di Indonesia, modus apa yang paling banyak digunakan, dan bagaimana perusahaan dapat mengurangi risikonya?
Seberapa sering kejahatan siber terjadi di Indonesia?
Kejahatan siber di Indonesia terjadi dalam skala yang besar dan terus berkembang. BSSN mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, dengan malware, phishing, dan eksploitasi berbasis AI menjadi bagian dari ancaman yang banyak ditemukan. Tren serangan tersebut juga masih berlanjut pada awal 2026.
Ancaman yang terjadi tidak hanya berupa satu jenis serangan. Ransomware, malware, phishing, penipuan digital, pencurian kredensial, hingga DDoS menjadi beberapa contoh yang menunjukkan luasnya lanskap kejahatan siber di Indonesia.
Ransomware masih menjadi ancaman serius
Ransomware tetap menjadi salah satu ancaman yang perlu diperhatikan organisasi di Indonesia. Data yang dikutip Komdigi mencatat lebih dari 514 ribu aktivitas ransomware di Indonesia sepanjang 2024.
Dampaknya juga terlihat pada serangan terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) pada Juni 2024. Serangan ransomware tersebut menyebabkan sejumlah layanan publik terganggu dan tereksposenya data masyarakat. Insiden ini menunjukkan bagaimana ransomware dapat berdampak tidak hanya pada data, tetapi juga pada kontinuitas layanan dan operasional organisasi.
Malware masih banyak digunakan dalam serangan siber
Malware dapat digunakan untuk mencuri kredensial dan data, membuka akses jarak jauh ke perangkat, memantau aktivitas pengguna, hingga menjadi bagian dari serangan ransomware. BSSN mencatat malware sebagai salah satu ancaman yang paling banyak ditemukan dalam aktivitas siber di Indonesia. Pada 2025, sekitar 93,78% dari anomali trafik yang terdeteksi berkaitan dengan malware.
Bagi perusahaan, satu perangkat yang terinfeksi dapat menjadi pintu masuk ke sistem lain. Pelaku dapat memanfaatkan akses tersebut untuk mencuri kredensial, meningkatkan privilege, bergerak ke server lain, atau mengumpulkan data sebelum menjalankan serangan lanjutan.
Phishing dan penipuan digital terjadi dalam skala besar
Phishing dan social engineering tidak selalu membutuhkan teknik serangan yang kompleks. Pelaku biasanya memanfaatkan manipulasi psikologis untuk memperoleh password, OTP, informasi pribadi, atau mendorong korban melakukan transaksi.
Di Indonesia, aktivitas phishing terjadi dalam skala besar. Data yang dikutip Komdigi mencatat sekitar 26,77 juta aktivitas yang terindikasi phishing sepanjang 2024. Angka ini menunjukkan bahwa phishing masih menjadi ancaman yang perlu diperhatikan, terutama karena satu kredensial yang berhasil dicuri dapat membuka jalan bagi serangan lanjutan terhadap akun atau sistem perusahaan.
Serangan DDoS dapat terjadi dalam volume sangat besar
Distributed denial-of-service (DDoS) bekerja dengan membanjiri sistem atau layanan dengan trafik dalam jumlah besar hingga layanan tersebut tidak dapat digunakan secara normal.
Pada Juni hingga Juli 2025, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan menghadapi sekitar 2,2 miliar hit serangan DDoS dalam waktu sekitar dua minggu. Pada puncaknya, serangan mencapai puluhan juta request per detik dan berasal dari jutaan alamat IP di berbagai negara.
Pencurian data dan kredensial tetap menjadi risiko
Cyber crime juga dapat bertujuan memperoleh data, password, cookie, atau informasi lain yang dapat digunakan untuk serangan berikutnya. Kredensial yang berhasil dicuri dapat membuka akses ke akun maupun sistem perusahaan, terutama ketika akun tersebut memiliki hak akses yang luas.
Karena itu, pencurian kredensial sering kali bukan akhir dari serangan. Akses tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan privilege, bergerak ke sistem lain, mencuri data lebih banyak, atau menyebarkan malware dan ransomware.
Berapa biaya yang ditimbulkan akibat kejahatan siber?
Dampak kejahatan siber tidak hanya terlihat dari jumlah serangan, tetapi juga dari besarnya kerugian finansial yang ditimbulkan. Di Indonesia, nilainya sudah mencapai triliunan rupiah dan berasal dari berbagai bentuk kejahatan, mulai dari penipuan digital hingga peretasan pada sektor keuangan.
Kerugian penipuan digital mencapai Rp9,5 triliun
Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) dan Satgas PASTI, total dana korban kejahatan siber yang dilaporkan telah mencapai sekitar Rp9,5 triliun hingga April 2026.
Angka ini menunjukkan besarnya dampak penipuan digital yang memanfaatkan berbagai modus, termasuk phishing, penyalahgunaan OTP, impersonation, hingga pengambilalihan akun.
Peretasan sektor keuangan menimbulkan kerugian Rp1,52 triliun
Sektor keuangan juga menghadapi kerugian yang signifikan. Data PPATK mencatat sedikitnya 21 kasus peretasan sejak Juni 2024 hingga triwulan I 2026 yang melibatkan perbankan, penyedia jasa pembayaran, dan perusahaan sekuritas.
Total kerugian dari kasus tersebut mencapai sekitar Rp1,52 triliun. Data ini juga menunjukkan bahwa penipuan daring, akses ilegal, pencurian data, dan peretasan sektor keuangan termasuk dalam kelompok kejahatan siber berisiko tinggi.
Kerugian akibat kejahatan siber diproyeksikan mencapai Rp111 triliun pada 2026
Skala kerugiannya dapat jauh lebih besar jika melihat keseluruhan lanskap ancaman. Bank Indonesia memproyeksikan kerugian akibat kejahatan siber di Indonesia sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar US$6,2 miliar atau Rp111 triliun.
Proyeksi tersebut mencerminkan risiko yang semakin besar seiring meningkatnya transaksi digital, penggunaan layanan keuangan online, serta berkembangnya modus fraud, scam, dan penyalahgunaan data.
Biaya sebenarnya tidak berhenti pada dana yang dicuri
Bagi perusahaan, kerugian akibat cyber crime dapat meluas ke biaya lain seperti downtime, investigasi dan pemulihan sistem, hilangnya produktivitas, kehilangan data, hingga risiko kepatuhan dan reputasi.
Karena itu, nilai kerugian langsung hanya menggambarkan sebagian dari dampak sebuah insiden. Semakin lama aktivitas berbahaya tidak terdeteksi, semakin besar kemungkinan serangan meluas ke lebih banyak akun, sistem, dan data.
Bagaimana cyber crime terjadi?
Cyber crime biasanya tidak terjadi dalam satu langkah. Pelaku dapat memulai dari mencari informasi tentang target, memperoleh akses awal, memperluas hak akses, lalu bergerak ke sistem lain sebelum mencuri data atau mengganggu operasional.
Secara umum, serangan dapat berkembang melalui beberapa tahap berikut:
1. Reconnaissance
Pelaku mengumpulkan informasi tentang target, seperti domain, alamat email karyawan, aplikasi yang digunakan, aset yang terhubung ke internet, atau celah keamanan yang mungkin dapat dieksploitasi.
2. Initial access
Setelah menemukan titik masuk, pelaku mencoba memperoleh akses awal. Caranya dapat melalui phishing, kredensial yang dicuri, malware, vulnerability yang belum ditangani, atau layanan yang terekspos ke internet.
3. Privilege escalation
Akses awal belum tentu memberi pelaku kendali penuh. Karena itu, mereka dapat mencoba meningkatkan privilege untuk mendapatkan hak akses yang lebih tinggi, misalnya dari akun pengguna biasa menjadi administrator.
4. Lateral movement
Setelah mendapatkan akses yang lebih luas, pelaku dapat berpindah dari satu endpoint, akun, atau server ke sistem lain di dalam jaringan. Tahap ini memungkinkan mereka mencari sistem dan data yang lebih bernilai.
5. Data theft atau disruption
Pada tahap akhir, tujuan serangan mulai dijalankan. Pelaku dapat mencuri data, mengenkripsi file dengan ransomware, mengubah atau menghapus informasi, mengambil alih akun, hingga mengganggu layanan dan operasional perusahaan.
Tidak semua cyber crime mengikuti urutan yang sama. Namun, memahami tahapan ini membantu perusahaan melihat bahwa satu phishing email atau akun yang disusupi dapat berkembang menjadi insiden yang jauh lebih besar jika aktivitas mencurigakan tidak terdeteksi sejak awal.
Cara menerapkan strategi perlindungan berdasarkan tren cyber crime
Data dan kasus cyber crime menunjukkan bahwa serangan dapat bermula dari banyak titik, mulai dari phishing dan kredensial yang dicuri hingga vulnerability, malware, dan ransomware. Karena itu, strategi perlindungan perlu mencakup identitas, endpoint, data, serta aktivitas yang terjadi di dalam sistem.
1. Batasi risiko dari akun dan akses berlebih
Kredensial yang dicuri akan menjadi jauh lebih berbahaya jika akun yang disusupi memiliki hak akses tinggi. Karena itu, perusahaan perlu menerapkan multi-factor authentication (MFA), prinsip least privilege, serta melakukan evaluasi berkala terhadap privileged account.
Hak akses administrator juga sebaiknya diberikan hanya ketika benar-benar dibutuhkan dan dicabut setelah tidak lagi diperlukan. Dengan begitu, satu akun yang terkompromi tidak langsung memberikan pelaku akses luas ke sistem lain.
2. Tutup vulnerability sebelum dimanfaatkan
Vulnerability pada operating system, aplikasi, atau perangkat yang belum diperbaiki dapat menjadi titik masuk bagi pelaku.
Perusahaan perlu memiliki visibilitas terhadap aset yang digunakan, melakukan vulnerability assessment secara rutin, serta memprioritaskan patch berdasarkan tingkat risiko dan kemungkinan eksploitasi.
3. Perkuat keamanan endpoint
Laptop, workstation, dan server sering menjadi pintu masuk malware maupun ransomware. Karena itu, endpoint perlu dilindungi dengan lebih dari sekadar antivirus.
Application control, pembatasan hak administrator, hardening konfigurasi, patching, serta pemantauan aktivitas endpoint dapat membantu memperkecil attack surface dan membatasi dampak ketika satu perangkat berhasil disusupi.
4. Pantau aktivitas mencurigakan dari log
Tidak semua serangan dapat dihentikan pada tahap awal. Karena itu, perusahaan juga perlu mendeteksi tanda-tanda setelah pelaku berhasil masuk.
Failed login berulang, login dari lokasi yang tidak biasa, perubahan privilege, pembuatan akun baru, aktivitas akun abnormal, hingga transfer data dalam jumlah besar dapat menjadi indikator serangan.
Sentralisasi log dan pemantauan secara real time membantu tim keamanan menemukan pola tersebut lebih cepat dan memahami bagaimana sebuah insiden berkembang.
5. Awasi ke mana data sensitif bergerak
Perusahaan perlu mengetahui data sensitif apa yang dimiliki, siapa yang dapat mengaksesnya, dan bagaimana data tersebut dipindahkan.
Pemantauan terhadap email, USB, aplikasi cloud, file sharing, dan kanal lainnya dapat membantu mendeteksi ketika data berpindah ke lokasi yang tidak seharusnya.
6. Siapkan respons sebelum insiden terjadi
Pencegahan saja tidak cukup. Perusahaan juga perlu mempersiapkan apa yang harus dilakukan ketika akun, endpoint, atau sistem sudah terkompromi.
Siapkan backup yang dapat dipulihkan, prosedur isolasi perangkat, mekanisme untuk menjaga log dan bukti insiden, serta incident response plan yang diuji secara berkala.
7. Perkuat awareness terhadap phishing dan social engineering
Phishing dan social engineering menargetkan manusia, sehingga kontrol teknis perlu dilengkapi dengan security awareness.
Karyawan perlu memahami cara mengenali permintaan password atau OTP, domain palsu, impersonation, hingga komunikasi yang menggunakan AI atau deepfake. Pelatihan juga sebaiknya menggunakan contoh serangan yang relevan dengan modus yang sedang berkembang.